Latest News

Mendadak Mandalika

 


Oleh dr achmad budi karyono 

Setelah mengikuti kajian Ahad Pagi di Mu Centre di hari ke 5 Ramadhan ini, menerima kabar bahwa ada keluarga dekat yang jatuh usai tarawih. Semua saudara sedang berada di luar kota dan tidak bisa segera hadir. Hanya kami yang tergolong agak longgar, walau sesungguhnya juga tidak lepas dari urusan.


Kesaktian dialami sejak jatuh 3 hari yang lalu di bagian pinggul pada wanita 84 tahun, memacu untuk segera mendapatkan tiket. Dan kami harus segera bergerak dini hari nanti agar bisa mengikuti penerbangan jam 7. Semuanya mendadak.



Kami tiba di bandara ZAM atau LOP Lombok jam 9.05 WITa. Baru pertama kali kami mendarat disini, sejak diresmikan pada tahun 2011. Pada kurun waktu itu pula sedikitnya, kami tidak berkunjung ke Lombok. Bandara yang cukup megah berlokasi di LoTeng, menggantikan bandara Selaparang yang berada di Ampenan Mataram.


Bersyukur sekali rasa kesakitan berkurang sejak mendapatkan injeksi anti nyeri, dan cukup sekali. Hasil pemeriksaan CT Scan di area yang sakit dan dicurigai terjadi sesuatu, masih dalam batas normal. Semoga hanya memar karena terjadinya benturan akibat jatuh.



Sejak berada di Lombok sampai pulang, tidak ada sinar matahari langsung. Bahkan sering hujan walau tidak deras, pernah juga hujan angin sekali. Suhu udara cukup dingin 20-24⁰c, disertai juga dengan kencangnya hembusan angin 18,5 km/jam, terutama di malam hari. Sehingga membatasi kami, dan hanya bisa silaturrakhim ke satu tempat.



Namun banyak keponakan yang tinggal di rumah keluarga besar. Setelah sekian lama kami tidak berjumpa, kali ini kami bisa buka bersama. Walaupun yang hadir hanya sebagian saja, namun sudah guyub, semarak dan gembira buka bersama.



Karena kondisi nenek aman, hari Rabu pagi kami akan pulang, mendapat penerbangan jam 9.35 WITa. Dan kami pun sudah menyiapkan diri pagi itu dan akan diantar keponakan sampai bandara. Saat kami melihat pesan di HP, ternyata kami harus gabung dengan penerbangan jam 11.35 WITa.


Karena sudah pamit dan siap berangkat, kami pun mendadak ingin ke Bendungan Meninting. Sungai yang bermuara di Ampenan, yang diambil manfaatnya untuk pertanian. Bisa juga dan akan dikembangkan sebagai destinasi wisata, dengan pemandangan Ampenan dari atas bukit di kejauhan. Di area yang sejuk ini, sudah tersedia cafe yang juga menyajikan spot view serta booth photo yang cukup menarik.



Kami pun turun menuju bandara. Kami laju dengan santai. Ternyata masih tersedia waktu yang cukup longgar. Keponakan menawarkan ke sirkuit balap. Jadinya mendadak ke Mandalika.


Ditengah perjalanan, mendadak hujan lebat, dan hampir meredam semangat kami, hampir balik, batal. Ternyata perjalanan dilanjutkan dan hujan semakin reda. Dan bersyukur bisa berfoto ria di luaran saja.


Area yang sebelumnya kurang produktif, kini menjelma menjadi Mandalika, wahana racing internasional. Dan lebih dari 20 tahun yang lalu, kami pernah berkunjung ke Kuta Lombok dengan pasir nya yang khas, putih dan ukuran besar. Kami juga singgah di destinasi wisata favorit yang lain, desa Sade rumah khas tradisional Lombok yang menjadi icon Lombok.


Lombok dan Mandalika telah menjadi perhatian dunia balap internasional. Dan merupakan racing track ke 2 di negeri ini setelah Sentul. Semua infrastruktur yang terkait sudah disiapkan dengan rapi. Even internasional menjadi harapan masyarakat sekitar, dan akan menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.


Semoga kita selalu sehat.(Abk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suara Wisata Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Gambar tema oleh Flashworks. Diberdayakan oleh Blogger.