Oleh dr achmad budi karyono
Pagi itu sekitar 8.30 berangkat untuk menghadiri Halal bi halal anggota prolanis. Pertemuan yang sudah direncanakan sepekan sebelumnya, di sebuah cafe atau resto. Dan diikuti oleh sebagian anggota, karena beberapa yang lain masih di luar kota, ada yang perlu istirahat dan beberapa berbarengan dengan acara lain.
Graha Batu Beling di barat Bengawan, ke kiri setelah melewati jembatan Sosrodilogo. Kreasi anak muda yang memoles dari kebonan menjadi cafe atau resto, hiburan dan pendidikan yang cukup menarik. Fasilitas cukup memadai, dan saat itu bersamaan dengan outbound siswa SD di area sebelah timur.
Acara berjalan lancar, tepat waktu dan semuanya gembira. Karena di ajang lebaran ini, semuanya saling memaafkan. Walau para prolaniser menyandang penyakit, semua tampak gembira serta melupakan penyakitnya. Makanan yang sudah di pesan, disajikan dengan tata boga yang cukup menarik, dan rasanya lezat. Fun game yang sudah dipersiapkan Admin, menambah semaraknya HalBil Prolanis.
Tepat jam 9.43 harus segera berkemas menuju Tuban. Bersama beberapa teman komunitas yang lain untuk silaturrahim di pantai. Cumi bakar serta gurami bakar menjadi pilihan sajian. Memang enak dan lezat. Di santap bersama, sangat menyenangkan. Ditambah lagi kelapa muda yang kemlamut, menambah segarnya semilir angin laut.
Setelah kenyang, kami beralih ke pusat kota sekitar Alon alon, di Masjid Agung. Bertepatan ada kajian, mengupas surat Al Fatihah, terutama pada saat sholat. Disampaikan oleh seorang Ustadzah dengan suara yang cukup lantang, tapi lembut, jelas serta tegas dan InsyaAllah mudah difahami.
Kemudian kami lanjutkan ke barat masjid, melewati gang yang agak lebar, kanan kirinya bertebaran pedagang yang menjajakan oleh oleh. Berbagai jajanan serta pakaian dan aksesoris, semua tergantung selera, siap dibeli disana. Pada siang itu memang tidak seberapa ramai dan padat, walau kami baru pertama kali kesana.
Setelah sekitar setengah jalan, di sebelah kanan terlihat gapura yang agak pendek. Sehingga beberapa orang harus membungkuk saat akan melewati. Kemudian disusul gapura biasa, dengan ukuran biasa pula. Masuk dalam komplek itu, tampak masjid dan banyak pula orang yang sholat disitu.
Orang masuk kompleks makam sebelah utara masjid, tidak terlalu ramai. Sehingga bisa berziyaroh dan berdoa dengan tenang. Itulah area makam Sunan Bonang, salah satu Wali Songo yang kita kenal sangat khusuk dan khidmat dalam memberi contoh kehidupan beragama. Putra dari Sunan Ampel yang lahir tahun 1465 itu sebagai penggubah Tombo Ati yang kita nyanyikan sampai saat ini.
Kita bersyukur, kemanapun kita pergi atau melakukan kegiatan, selalu ingat dan kita warnai dengan aktivitas religius. Di era ini, hampir setiap kabupaten memiliki atau mengadakan destinasi atau heritage yang religius. Dan beberapa yang bersifat heritage sudah dikenal umat, beberapa destinasi sudah viral. Namun yang paling penting, sudahkan dalam kehidupan kita bersikap religius.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar